22-02

Halo tanggal cantik, kita bersua lagi… Semalem saya ngingetin seseorang ‘tanggal cantik lho’. Habis itu saya merasa bersalah, semacam ngodein geje gitu, padahal…

SKIPPPPPPPPPP JUST SKIIIPPP THIS DAY!!!! DONT WANNA HAVE THAT 22-02 IN MY LIFE!!!!

… to be continued

Advertisements

Ketujuh ~

Aku suka angka tujuh, entah kenapa, mungkin karena Sheila on 7 juga pakai angka tujuh, ah yang ini ngga nyambung. Tapi ngomong-ngomong soal Sheila on 7, kebetulan si mas juga suka Sheila on 7, lagu ‘Ketidakwarasan Padaku’ (eh semoga ngga salah) adalah lagunya waktu patah hati pas SMA dulu. Lucu ya dia bisa cerita gitu.

Tanggal ini bulan ketujuh sejak pertemuan itu. One thing I believe, we didn’t meet by plan, we met by fate. Then he came into my life unexpectedly and suddenly. Dia seseorang yang tau hidupku seberantakan itu namun tangannya yang paling erat memegang tanganku. Dan ketika ku bilang, “Kalau kamu datang cuma mau bikin hatiku pecah berkeping-keping, mending nggak usah”, lalu katanya “Nggak lah”, “Percaya aja”. Tapi dia pasti lupa pernah bilang gini. Tapi aku inget, bakal selalu inget. Ini mah perasaan orang yang baru aja dibikin jatuh cinta, selanjutnya you know lah…

It’s not that easy to find him. There’re thousand prayers I sent to the universe to send me someone I could rely on. And it’s him. Dari ribuan untaian doa yang kulangitkan, dia adalah sebentuk jawaban yang dibumikan. Dia bukan orang yang aku sangka akan muncul dihidupku. Tapi memang dia nyata. Dia ada setelah doa-doa itu berhasil menembus langit. Sementara itu yang bisa aku percaya dari semesta.

Sekarang ini, namanya yang selalu terselip dalam doa-doaku, agar diringankan langkahnya, diterangi jalannya, dikuatkan hatinya, dilindungi hidupnya, dan doanya sama dengan doaku.

Tetaplah bersamaku, hingga 7 bulan, 7 tahun, 7 windu, atau 7 abad kedepan.

Amicuu :*

Mbak Retchy,

Teruntuk Mbak Retchy,

Sedikit banyak saya bisa merasakan apa yang Mbak Recthy rasakan. Kehilangan seseorang yang pernah kita perjuangkan memang tidak mudah. Ngilu di ulu hati kan, Mbak? Remuk dan lalu mati rasa. Serasa separuh nyawa sudah diangkat namun separuhnya lagi masih harus tinggal. Sesak dan tak bisa apa-apa.

Memang harus seperti itu fase patah hati. Marahlah, Mbak. Menangislah. Karena hanya itu yang bisa meredakan kekecewaan yang berkecamuk dalam dada. Mungkin akan makan waktu sedikit lama, 3 bulan, 8 bulan, atau bahkan dua tahun. Tak apa, Mbak. Tidak ada patah hati yang tidak menyakitkan. Namun, selama itu, percayalah, bahwa Tuhan merencanakan yang jauh lebih baik buat hidup Mbak Retchy. Mungkin Tuhan mengambil yang Mbak Retchy mau dan menggantinya dengan apa yang Mbak Retchy butuh. Tuhan Maha Tau, Mbak. Dan selama itu, maafkanlah dia. Doakan dia yang baik-baik walaupun yang dia lakukan sama sekali tidak baik. Menghancurkan harapan seseorang bukan hal yang mudah dimaafkan. Tapi, ada karma dibalik itu semua. Tuhan maha Adil Mbak. Lalu percayalah ini, Tuhan telah mengatur jodoh kita, mau seberapa keras kita berjuang, jika dia bukan jodoh kita, maka tak akan terjadi. Tuhan tak pernah salah, Mbak. Dengan meninggalkan Mbak Retchy juga belum tentu hidupnya bahagia Mbak, bisa jadi seumur hidupnya akan dihantui perasaaan bersalah telah menyakiti sebongkah perasaan. Namun, tetap berdoalah yang baik untuk dia, doa yang baik akan berbalik pula.

Mbak, sepotong paragraf diatas semoga bisa mendinginkan panasnya hati mbak. Saya bisa menulis karena saya pernah melalui masa-masa itu. Empat setengah tahun untuk benar-benar sampai pada level mengikhlaskan. Dan setelah masa itu, saya tau alasan kenapa saya dipisahkan dengan seseorang yang saya mau. Tak lama setelah saya benar-benar melepaskan, saya menemukan sesosok manusia yang jauh lebih baik dari seseorang yang mencampakkan saya dulu. Tuhan menggantikan dengan seseorang yang jauh lebih baik. Tutur katanya yang selalu bisa membuatku tenang, senyumnya yang membuat saya selalu ingin hidup lebih lama bersamanya, dan sisa hidupnya yang ingin kumiliki sepenuhnya. Seseorang yang tak pernah saya sangka akan hadir begitu saja. Dia rumah terakhir dimana saya ingin menetap.

Akan ada pelangi setelah badai. Orang baru itu akan datang, suatu hari nanti, menawarkan masa depan yang jauh lebih indah. Jangan berhenti percaya, Mbak. Tuhan Maha Rencana.

Let’s Wrap Up!!!

Time flies. On this 366th day of 2016, I wanna flashback to the days passed. Surely, lots of  bad and good things happened. Let’s take a deep breath before time-traveling to the moments I’ve been through. I know it won’t be easy but let me try revealing those bittersweets of life.

First, thank God I still have a blessed life. I still breathe I can eat I can sleep I can do anything I want. I have a wonderful life, good jobs, and nice friends. I’m still working at a language training center in one of private university in Yogya. I’m also teaching BIPA and also writing if there is a project. Although I’ve got several jobs I sometimes still apply for other jobs or when a friend offers me a job, I’ll gladly take it. I need to earn money. But it’s not totally about the money. I just don’t like wasting my time daydreaming in my room or doing something useless. People say that money can’t buy happiness but it can buy ice cream, pizza, lipsticks, shoes, and holiday tickets. That’s why I work (that hard).

I work and meet many people with various characters. I used to like seeing new people. But this year, I didn’t make friend a lot. I know some but they are just acquaintances. Like just saying hi, talking about common things but not sharing about each other’s life. I find it hard to trust people recently, even to my close friends I’ve known for years I rarely talk about my personal life. Why should I talk if at the end I don’t get support or I just get like ‘just be patient’ advice? Sometimes, when I try to talk about something serious they respond it with jokes that, you know, it often hurts. To me, it’s enough to have one or two or three friends yet they know you better. So, for you guys whom I often talk about my secrets to, you’re precious.

I like going to new places where I can escape from my monotonous routines. I went traveling often, to Sadranan beach, Nglambor beach, Karimun Jawa, and Kampung Pitu. I think I know how to spend my money well. Traveling is a reward after working hard days and nights. And last month I already booked a flight ticket to go somewhere. Oh my godness, I have to work harder next year. My dad said, “While you’re young (and single), go someplace you never visit, see new people, learn the culture, those will give you life lessons. Don’t think much about money. You can search for it again but you can’t find the same chance once you missed it.” OK dad, noted. Is it ok with another holiday ticket to somewhere farther? *wink

Life is like a roller coaster, sometimes we’re up and down. Failure is one thing that I must embrace. Long story short, I failed in some good vacancies I applied for. That’s really heartbreaking. When you thought you could run away from things you didn’t want to face and that’s the only way out but you’re failed to find the door, it was sooo depressing. I was talking about PPSDK. Hahaha. I was dissappointed, sad, mad. But I know God has a better plan.

And about love life is the hardest to tell. If you know I had been suffering for years because of a creature called ex-man, I finally met someone. He didn’t cure my pain because I met him right after I was healed. He is someone who has become the core of my world. He never promised me anything but I know he’s the one I can rely on. Mas, please be my last because I’m frigging tired to find another arm to lean on. I like yours I want yours. That’s all. Well, let me tell about him after my good mood gets back. Doi habis bikin aku jengkel jadinya ga aku tulisin aja, hahaha. Nyebelin dia ituuu…

For all the good and bad, the ups and downs during 2016, I’ve learned a lot. I’ll become a better me in the upcoming year. 180 minutes to go to 2017. Thank you for this wonderful year. Let’s embrace the new year with joy and happiness. Cheers,

 

That Gift

After a thousand prayers that I always send to the universe, there comes an answer in the shape of a man; with shoulders that I can lean on, ears that always listen, and a heart that keeps me safe.

A man whom I want to spend the rest of my life with, enjoying the ups and downs of life, laughing at the good and bad times, and going through the heat and coldness of the world.

He’s a gift that I can’t deny, I can’t let go, I will embrace.

With him, I don’t need any dream. With him, heaven feels so near. With him, I can conquer everything that scares me.

Thanks for always being by my side.

Xoxo

 

The Best Script Writer (Repost)

Ya ampun, saya pernah nulis ini tanggal 14 November 2011 (sila cek blog lama saya). Dan hari ini tanggal 14 November 2016 saya unggah ulang. Seperti sedang diingatkan kembali untuk tetap menjadi orang baik dan selalu bersyukur. Akhirnya, ini adalah postingan saya tahun 2011, saya hanya ubah bagian pemilihinan kata dan tanda baca dan itu tidak banyak. Have a read!

***

The Best Script Writer

Tingkat galau nambah dua level lagi, gara-gara terlalu banyak nonton drama-drama romantis dengan happy ending. Mungkin memang terlalu mengharap kisah hidup yang berjalan seperti yang tertulis di skenarionya.  Saya sadar hidup yang sebenarnya tidak sesederhana itu. Yang semua terangkum dalam durasi 120 menitan.

Dan saya juga sedang melakoni peran saya di dunia ini. Dengan Tuhan sebagai script writernya. Entah, cerita apa yang Dia tulis. Berperan sebagai tokoh protagonist ataupun antagonist terkadang. Saya cuma menikmati dan melakukan yang terbaik di setiap scene yang ada. Biarlah, endingnya mau seperti apa. Biarkan berjalan seperti plotnya. Jika durasi sudah habis, pasti juga ketauan endingnya seperti apa. . Because I believe… God is the best script writer.

***

Percaya aja, Tuhan telah menyiapkan skenario terbaiknya. Semua akan indah pada waktunya. Jadi kalau belum indah ya belum waktunya, begitu kata si Mas :))

Dear Heart,

Dear Heart,

Thanks for being so strong. I know you’d suffered a lot. You’d been in a deep pain for so long. It’s hard to clear up all the feelings left after those betrayals and goodbyes, I do understand. I know you want to give up. You’ve been tired enough to mend the broken.

But this time, do you want to try once again?

That did just happen. The moment when I wanted to freeze the time, just to stay longer with him, to stare at his eyes, to touch his warm hands, and to listen to his voice. Things that I’ve been missing for years. Things shaking my whole life in a sudden, erasing fear and misery haunting my path, showing that there’s another hope to grow a thing called love.

Ya, he was just a stranger who turned into someone I can’t stop thinking about. Although I don’t know how it will end, I want to begin again.

So, do you mind giving a little space, giving another try, dear heart?

With love,

Me

Ordering Someone from the Universe

Feb, 5th 2016 6:00 PM (dan baru sempat posting karena baru nemu sinyal internet)

Sebenarnya sudah sejak 2 hari yang lalu pengen nulis tentang ini, tapi apalah daya, waktu saya tersita untuk ngurusin sakit kepala dan deadline yang dengan setianya menanti. Trus pas mau mulai nulis, saya berada dalam program penghabisan stok tissue dan cadangan air galon (re: flu). Cuacanya lagi ga oke jadi gampang banget sakit.

Singkat cerita, saya terjebak dalam pembicaraan agak serius dengan teman saya.  Jadi, ceritanya dia –sebut saja Luna- memberitahu saya bahwa dia mengidap penyakit mastopathy dan dia dalam masa observasi dokter selama setahun. Pada waktu check-up, hal pertama yang ditanyakan dokter adalah “Umur Mbak berapa?” dan “Apakah sudah menikah?”. Lalu Luna menyimpulkan sendiri bahwa penyakitnya mungkin akan sembuh kalau sudah menikah dan hamil dan punya anak. Lalu dia bilang ke saya,

“Iya sama grandma disuruh cepat nikah, katanya suruh ngirimi Al Fatihah gitu ke orangnya, lha orangnya siapa aja ngga ada. Hahaha.”

“Ah iya Lun, bisa itu. Kirimin Al Fatihah.”

“Kata grandma, temannya ada yang begitu dan berhasil.”

“Iya temenku Tita (NAMA SEBENARNYA :D) juga begitu, dan berhasil”.

Pembicaraan kami berlanjut sampai toilet dan ternyata ada teman lain yang mendengar lalu dia bilang,

“Mbak Hestiiii aku diajari gimana yang ngirim Al Fatihah tadi.”

Saya mau bilang ngga tahu, tapi bohong itu dosa, mau saya kasih tahu, nanti guru spiritual saya ngamuk. Tapi akhirnya saya putuskan untuk memberitahunya. Sorry ya Ta, ilmu itu harus dibagi 🙂

Lalu saya memberitahu caranya, seriusan ini, dia awalnya ngga percaya, soalnya hidup saya juga masih gini-gini aja. Ahahaha. Tapi percayalah mbak, hidup saya tenang dan bahagia.

Saya pernah membaca quote yang kurang lebih seperti ini “Jika kamu belum bisa bangun dan meminta di sepertiga malam terakhir, maka kamu belum bersungguh-sungguh menginginkannya”. Ya anggap saja usahanya seperti itu, bangun malam, dan merayu Allah. Kan katanya, Allah itu dekat dengan kita disepertiga malam terakhir. Iya kan? Lah, kirim Al Fatihah disitu sambil sampaikan pesan, semisal “Mamasss nikahi akuu masss,” (Jangan alay gini juga, yang penting serius).

Apa berhasil?

Ya tadi kan kata grandma, temannya ada yang berhasil. Dan teman sayapun juga berhasil. Saya masih ingat masa-masa hidup saya dan Tita berdua hancur berkeping-keping karena sebuah pengkhianatan, hahaha (nahlo, masa suram terkuak :D). Lalu pada saat itu kami selalu menguatkan satu sama lain, saling berbagi doa, memberi semangat supaya ngga ada yang banting-banting diri di aspal, (ngga banting-banting diri sih, cuma ngga makan 3 hari) :D. Browsing sana-sini, doa yang manjur untuk mengembalikan kekasih, tapi apalah yang keluar malah mantra-mantra jawa pengasihan dan sebagainya. Ngeri kan?

Dalam pencarian jalan keluar atas sakit hati yang mendera itu (cieeeh), kami menemukan teori tentang telepati, alam bawah sadar manusia saling terhubung dengan alam semesta, kita bisa menyampaikan pesan walau tanpa tatap muka. Tapi untuk menyampaikan pesan tersebut ada tekniknya.  Yang kayak gini pernah dibahas di filmnya Dee kalau ngga salah, dan dari sebuah novel yang kalau ngga salah judulnya I Order My Wife from the Universe (novelnya lalu ilang cyin :)). Makanya, saya ngga pernah mengabaikan mimpi sekitar jam itu, pasti itu adalah pertanda, atau memang ada seseorang di sebuah belahan bumi yang mengingat saya.

Dalam teori itu disebutkan bahwa kita bisa mengirim pesan terhadap target pada saat fase alpha, ya pas dia tidur gitu. Nah kenapa emang harus bangun jam 2 pagi buat ngirim Al Fatihah dan doa, biar bisa nyampai. Ah ini teorinya panjanggggg….  see me in person (*kode njaluk diapeli)

Dan berhasil, paling tidak doa sungguh-sungguh dengan menggunakan kekuatan pikiran, teman saya itu akhirnya bisa menikah dengan kekasihnya yang sempat hilang tadi. Dan saya? Ngga jodoh kali ya, mamasnya udah tenggelam di Laut Cina Selatan sekarang. Yang penting dulu saya sudah usaha, paling sampai sekarang dia ngga bisa lupain saya *bangga*

Jadi Lun, dan teman kami satunya, kalau memang punya niat baik untuk segera menikah, rayulah Tuhan. Dia yang Maha Pembolak-balik Hati. Dia yang Maha Mendekatkan Yang Jauh. Dia yang akan memberi jalan. Hanya perlu percaya, semua indah tepat pada waktunya.

Saya baru mulai merayu Tuhan lagi. Besok kalau cara saya ini berhasil, saya bakal cerita banyak. Memperbaiki diri, meminta maaf, dan berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik, itu kuncinya (berdasarkan artikel yang saya baca, sih). Jadi, mamas ganteng, ngga ada alasan bagimu untuk menolak seseorang yang memintamu lewat TuhanNya seperti ini. Kalau emang pernah suatu waktu njenengan merasa saya ‘datangi’ mungkin mantra saya sedang bekerja. *devillaugh*

Luna, semoga segera menikah, penyakitmu segera diangkat, teman kami yang satunya, tidurlah awal, jangan suka begadang, biar bisa sholat malam. Tita, yang saya tulis ngga salah kan ya?

Ps.

Ini bukan ilmu sesat hanya salah satu cara merayu Tuhan Maha Cinta 🙂

Ngga ada risetnya sih, nulisnya ngawur aja.

#testi

Screenshot_20160206_074240

 

Stay Close Lyric

Recently played song:

Stay Close – Pongki Barata feat Sophie Navita

Ketika sang malam
Dingin merisaukan
Yang aku inginkan
Di pelukanmu

Ketika dunia
Gelap tak berwarna
Yang aku bayangkan
Di pelukanmu

Saat langit mulai runtuh
Awan yang hitam terjatuh

I will be there…
Take my hand,
Don’t let go
Baby, stay close
I will keep you near
From the best of our days
To the worst i fear
I wont let go,
Baby I’ll be here
I’ll be your shelter from the rain
You keep me strong in my pain
Ooh… baby, stay close…
Dan bila dunia (dan bila dunia)
Tak mengerti kita (entah mengapa)
Tetaplah percaya (janganlah menyerah)
Ku di sisimu
back to**

To Kaissa

Icha, selamat menempuh hidup baru, selamat telah menemukan teman hidup untuk saling berbagi, selamat telah menemukan sandaran dan tangan yang siap menopang dan memegangmu saat goyah… 

Icha, semoga kalian dapat menua bersama dalam bahagia…

kaissa

Photo credit: Kaissa’s Facebook

Kaissa Melian, saya memanggilnya Icha. Seorang yang saya kenal sekitar 3 tahun lalu. Teman satu pleton saat prakondisi tahun 2012 di AAU. Teman satu lokasi penempatan, Kabupaten Ngada, walau berbeda kecamatan, Malatalokolo dan Bajawa. Teman tinggal satu lantai di gedung asrama. Tapi, ternyata jodoh kita hanya sampai disitu. Akhirnya dia melanglang buana kemana-mana, sedang saya tetap stay di Jogja.

She’s more than a friend.

Dia ibu guru, bukan hanya bagi muridnya, namun juga bagi saya. Banyak hal yang membuat saya salut; sholat tertibnya, baca kitabnya, puasa-puasa sunahnya, ngajinya, sholehahnya – saya masih jauh dari itu. Seseorang yang cantik, baik, tulus, rajin, pintar, berani, teladan, siapa yang menyangkal? Iya, dia memiliki itu semua. Saya belajar memiliki itu semua.

Perfect. She is. 

Banyak waktu yang telah terlewati bersama. Paling tidak setahun di lokasi pengabdian itu membuat saya paham arti pertemanan. Teman yang harus ada saat yang lain membutuhkan. Dia teman berbagi cerita, bahagia, dan air mata saat sama-sama jauh dari keluarga. Teman berbagi peluh dan keluh.

Sepertinya saya tidak akan pernah bisa lupa saat kami tidur di gudang itu dan menggigil saat musim dingin memeluk kota Bajawa. Bertiga dengan Vera.

10 hari di markas AAU, 11 bulan di Kab. Ngada, 6 bulan di asrama, hingga akhirnya, jiwanya terpanggil untuk mendidik anak bangsa di tengah hutan sawit, di Riau sana. Keputusan yang saya tidak berani mengambilnya. Beberapa bulan kemudian, dia memutuskan untuk mengajar anak TKI di Sabah Malaysia. Sungguh mulia, Cha. Sungguh berani, sedang saya tak punya nyali untuk sekedar pergi jauh lagi.

Ibu Guru Icha, tetaplah menginspirasi.

Lalu beberapa hari lalu, akhirnya saya tau bahwa akhirnya dia telah menemukan pendamping hidup. Dan saya yakin bahwa siapapun yang bersanding dengannya adalah lelaki yang beruntung – Lucky – yang ternyata adalah nama suaminya.

Iya, Cha. Dia beruntung. Sangat beruntung menemukanmu dan bisa hidup denganmu.

Icha… Aku ikut berbahagia. Semoga bahagia selama-lamanya. 

Warm hugs and kisses,
Hesti~

Secuil Rindu Untuk Asramaku

Beberapa hari ini saya sedang merasakan hidup-segan-mati-enggan. Entah, lagi galau gitu soalnya. Lalu mengingat kehidupan asrama yang ternyata pernah lebih menyenangkan. Sayangnya, saya baru sadar sekarang.

Jujur saja, beberapa hari sebelum di-asramakan, semua rasanya mengerikan. Seolah-olah masa hura-hura saya terengut. Nggak akan ada lagi acara semacam Happy Puppy time, soda time, hangout time, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Lalu saya akan terpenjara dalam tembok asrama tanpa asmara (*gayamu).

Ya, pada awalnya memang mengerikan, jadwal bejibun dan segala peraturan semacam nggak boleh keluar malem, nggak boleh pulang ke rumah, nggak boleh ini itu, harus ini itu, dan sebagainya. Kuliah pagi sampai sore disambung kegiatan asrama, belum lagi tugas kuliah yang bakal bikin asma saya sering kumat.

Pulang-pergi kuliah dianterin, makan harus di asrama, sekamar bertiga, lalu dimana coba saya bisa dapat private space to talk to the wall? Lalu akhir pekan udah disusunin jadwal untuk kegiatan-kegiatan tambahan, semacam training ini itu, seminar, pelatihan. Kapan liburannya coba?

Waktu itu saya kurang bersyukur.

Tapi, sekarang betapa saya rindu masa-masa bangun pagi, mandi, makan katering disiapin, piring dicuciin, berangkat kampus dianterin, kuliah dan makan siangnya dianterin, pulang dijemputin, makan malam catering disiapin lagi, ya gitu-gitu terus tiap hari.

LIFE WAS MUCH EASIER AT THAT TIME.

Lalu pada masa itu, saya bertemu dengan teman-teman dari berbagai kota di Indonesia dengan segala tetek bengeknya, dengan bahasa ngapaknya, dengan dangdut koplonya, dengan nyebelin-nyebelin-ngangeninnya, dengan semua apa adanya mereka. Sekarang mereka sudah tersebar lagi ke seluruh sudut Indonesia, untuk menjadi guru bagi anak bangsa di pelosok sana. Dari Aceh sampai Papua bahkan ada yang di Malaysia. Ada yang di kota, dan mungkin ada pula yang tinggal ditempat yang listrikpun bahkan belum menyala. ONE THING I MUST ADMIT, YOU ALL ARE GREAT.

Makan apa hari ini? Saya sih tetiba kangen sama oseng-oseng kikil katering asrama ala chef Mbak Tri Queen. Walaupun dulu sempat klenger sama menu katering yang itu-itu aja (kalo nggak oseng-oseng janggel, oseng-oseng kikil, sop, nugget, ya soto (baca: kumkuman kobis), tempe, tahu, lele, ayam goreng, gudeg,). Namun ternyata jamane Mbak Tri enak to? Makan disiapin, piring dicuciin. Kalau menu nggak cocok tinggal protes. Esok harinya dibawain gerobak bakso. INI ADALAH CONTOH PENERAPAN PASAL 34 AYAT 1: FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR DIPELIHARA OLEH NEGARA MBAK TRI.

Dulu awalnya saya mikir bahwa, menjalani kehidupan kampus di UNY Karang Malang dan kehidupan asrama di UNY Wates bakalan berat. Lha gimana? Jogja – Wates 1 jam lebih. Kuliah jam 8 sampai jam 3, lima hari seminggu. Bakalan lelah lahir batin.  Tiap hari harus bolak-balik. BUT LIFE WAS MUCH EASIER AT THAT TIME. Ada bis UNY dan bis BIMO yang tiap hari bolak-balik antar jemput. Antar jemput kayak kita orang penting gitu. Lalu perjalanan Wates-Kampus hanya semacam pindah tidur. Lha gimana, Di dalam bis semacam ayunan paling nyaman yang membuat terlelap dalam waktu sekejap.

Sekarang kalau lewat jalan wates pengennya dianterin lagi, tinggal naik bis duduk santai, di dalem bobok sambil dengerin dangdut pantura ala monita atau palapa sambil nonton video klip “mending tuku sate timbang tuku wedhuse”.

Enak kan (satene)?

Jadi siklus hidup pada waktu itu adalah: Bangun tidur – mandi – sarapan (disiapin) – berangkat (dianterin) – kuliah (dikuliahin) – pulang (dianterin) – makan (disiapin) – tidur (ditidurin #eh).

Lha kalau kuliah pada ngapain? Belajar dong. Bikin materi, micro teaching, diskusi, nonton movie, bikin kopi, sambil nunggu kiriman nasi box dari catering (tetep makan siang juga dikirimin!)

Saya harusnya bersyukur dengan itu semua, hidup setahun ditanggung negara. Kalau nggak salah, saya pernah print buku tabungan, ada saldo lewat sebesar 60 juta. JELAS BUKAN UANG SAYA. Tapi itu uang negara untuk kami, untuk makan, jajan, pendidikan, hiburan, dolan, training, seminar, workshop, pelatihan dan kegiatan-kegiatan lainnya *lalu ngitung sertifikat*.

Ah! Kali ini saya beneran rindu. Rindu teriak “woooiii makan malam lauknya apaaa?” dari lantai 4 ke penghuni lantai 1. Rindu aerobic gratisan, masuk kamar demi kamar ngemis cemilan, rindu logat “aja kaya kue” atau “batiri inyong yuh”, rindu Mami Bega dan kebahenolannya, rindu tengah malam dangdut koploan, dan rindu-rindu tak terungkap lainnya.

Atau rindu ini hanya milik saya saja? (Iya, mungkin sih. Soalnya yang lain rindunya udah terbagi buat belahan jiwa dan buah hatinya.) *lalunyakarnyakartembok

Biarlah rindu tetap menjadi rindu. Di akhir tulisan ini, saya memutuskan untuk tetap menjalani hidup dengan penuh suka cita. Menikmati setiap momen yang ada. Nggak boleh lagi merasa hidup segan mati enggan.

Nggak ada yang tau kedepannya bakal jadi kayak gimana. Dulu yang sepertinya masa-masa asrama serasa neraka, kini akhirnya menjadi #asramayangdirindukan. Bisa saja, masa-masa galau sekarang ini, bisa jadi menjadi #masayangdirindukan.

Love every moment in life. Time never turns back. Be grateful and stay wonderful.

Thanks 2014

It’s already January 6th. Gila ya, cepet banget. Lama nggak posting, padahal rencananya sih tanggal 1 Januari harus menuliskan sesuatu sekedar untuk flashback, untuk mengingat apa yang telah terjadi, untuk mengenang orang-orang yang datang dan pergi, untuk mensyukuri segala sesuatu yang masih menjadikanku tetap hidup dan terus berjuang.

Simply, I just wanna say, thank you 2014. I’ve learned a lot of lessons. Thanks for the worst and best. I love you deeply. But now, I must step forward, embracing the 2015. I will learn more and more. I will grow and stand tall. Once again, thanks ❤

Melindungi Kepunyaan

“Ada yang mau diomongin, La?”

“Nggak, emang kenapa Mbak?”

“Kenapa sekarang keliatan lebih hati-hati milih teman?”

“Hah? Enggak kok.”

“Jangan gitu, sikapmu cuma bakal bikin orang ngira kamu sombong.”

“Eh?”

“Bukan karena ada yang membalikkan hidupmu 180 derajat, kan?”

“Nggak cuma itu, mereka udah ambil semua. Aku cuma milih buat lebih hati-hati bicara, biar nggak ada yang tau, biar nggak ada lagi yang ambil kepunyaanku.”

“Bersikaplah sewajarnya.”

“Mereka memintaku lari maju tapi mereka nggak tau ketika aku tersungkur. Aku bangun sendiri. Nggak ada yang mau tau.”

“Mereka nggak bermaksud…”

“Aku juga nggak bermaksud sombong, nggak bermaksud milih-milih, aku cuma mau melindungi diri, melindungi kepunyaanku.”

“Yasudah.”

Friday November 7th 2014.